Aku tidak pernah berharap menjadi seorang yang istimewa dimatanya. Aku memang bukanlah siapa-siapa, tapi yang aku tahu aku pernah ada untuknya. Sebaliknya, dia terlalu berarti buatku.
Dia bukanlah seorang yang istimewa, biasa-biasa saja. Yang menjadikannya istimewa adalah ketulusannya. Ketulusan yang tidak ada pada diri orang lain. Ketulusan yang memang hanya ada pada dirinya. Bukan bermaksud berlebihan, tapi itulah kenyataan.
Dia tidak terlalu peduli apa kata orang, dia punya penilaian. Sebuah penilaian yang membuatku merasa berada, dihargai, dan dimanusiakan. Penilaian yang membuatku lebih menghargai diriku sendiri. Mungkin sepele bagi orang lain tapi berarti bagiku. Saat semua orang mengecam, dia merangkul. Saat semua orang meremehkan, dia membesarkan hati. Saat semua orang mengacuhkan, dia merangkul. Saat itu aku belajar bagaimana dia menyayangiku dengan tulus.
Begitu besar arti sebuah persaudaraan baginya, begitu dalam pula bagiku. Dia yang membuat ketidakistimewaanku menjadi istimewa. Dia yang membuat ketidakberadaanku menjadi berada. Dia yang membuatku bangkit dari rasa sakit saat aku jatuh, dia yang selalu ada merangkulku. Bahkan dialah yang selalu setia menghiburku dikala rasa sakit datang menghampiriku.Seringkali kulakukan kebodohan, dia mengarahkan ke jalan yang benar. Sering aku sakiti hatinya, dia memaafkan. Entah bagaimana bisa dia lakukan semua itu.
Setiap kata yang terucap dari mulutnya, tak pernah sedikitpun dia menyinggungku. Setiap ucapannya, tak pernah dia menyakitiku. Setiap nasehatnya dapat diterima logikaku. Kedewasaannya membuatku kagum, meski kadang emosinya meluap-luap. Dia sungguh bijak bagi orang lain, hanya saja terkadang dia tidak bisa bersikap bijak untuk dirinya sendiri. Dia bisa menasehati orang lain namun kadang sulit menasehati dirinya sendiri. Memang kadang membingungkan, tapi itulah dia.
Dalam dia, sering dia menegurku. Menegur ketika kulakukan kesalahan ataupun kebodohan. Caranya seringkali tak dapat aku mengerti, namun itulah yang membuatku mencoba untuk mengerti. Belum sekalipun dia meminta sesuatu padaku. Jangankan untuk meminta sesuatu, untuk meminta pertolonganpun hanya akan dilakukannya jika memang sudah tak bisa dilakukannya sendiri. Pekerja keras memang, tak gampang menyerah pada keadaan. Itulah dia. Hingga kini aku masih berusaha untuk memahaminya.
Banyak kebaikan dan kekaguman yng kutulis tentang dia. Sebenarnya tidak berimbang. Namun biarlah sisi lain itu hanya aku yang tahu. Kenalilah dia lewat tulisanku. Namun, kenalilah dia lebih dalam dalam kesehariannya karena riabuan kata pun tak akan cukup untuk menggambarkan seperti apa dia. Hanya sebagian kecil tentangnya saja yang dapat aku bagikan lewat tulisanku ini.
"...You look into my soul and read me like nobody can, and you don't judge me but you just take me as I am..."
Thank you for being my sister with all my lack. Thank you for loving me as your little sister.
Dalam dia, sering dia menegurku. Menegur ketika kulakukan kesalahan ataupun kebodohan. Caranya seringkali tak dapat aku mengerti, namun itulah yang membuatku mencoba untuk mengerti. Belum sekalipun dia meminta sesuatu padaku. Jangankan untuk meminta sesuatu, untuk meminta pertolonganpun hanya akan dilakukannya jika memang sudah tak bisa dilakukannya sendiri. Pekerja keras memang, tak gampang menyerah pada keadaan. Itulah dia. Hingga kini aku masih berusaha untuk memahaminya.
"...You look into my soul and read me like nobody can, and you don't judge me but you just take me as I am..."
Thank you for being my sister with all my lack. Thank you for loving me as your little sister.

